Welcome

10.13
0
Aku adalah seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Sejak kecil aku didik sebagai orang yang disiplin, sehingga di lingkungan kerjaku aku dikenal sebagai karyawan teladan. Namun begitu harus aku akui aku memiliki banyak kekurangan diantaranya adalah aku terbiasa melakukan onani untuk melampiaskan hasrat seksualku. Bahkan sejak tahun 1999, aku terbiasa berhubungan seks dengan para PSK di panti pijat pinggir kota. Entah mengapa mereka menilai aku sebagai seorang yang pandai menyenangkan pasangan, padahal aku tidak pernah belajar dari siapapun kecuali dengan mereka. Mungkin aku belajar dari pengalaman. Dengan kondisi seperti itu aku selalu ditunggu-tunggu oleh mereka. Bahkan mereka tidak mengharuskan aku membayar jasanya. Suatu hal yang menguntungkanku. Tahun 2000 aku tidak lagi melakukan hal itu karena panti pijat tersebut sudah ditutup. Entah apa sebabnya. Setelah aku "istirahat" dan kembali dengan cara lama, onani, tiba-tiba aku mengalami peristiwa yang tidak disangka-sangka.

Aku biasa tiba di kantor selambat-lambatnya pukul 07.45 WIB, sehingga sering kujumpai kantor masih sepi. Suatu hari, atasanku meminta laporan bulananku ditaruh di mejanya besok hari Jum'at pagi sebelum pukul 08.00 WIB. Aku pikir, mungkin dia agak terburu-buru pada hari Jum'at besok. Dengan permintaan itu, Kamis sore itu, laporan harus sudah selesai. Aku pun lembur sebentar. Karena aku ada janjian dengan teman serumah mau pergi bareng, akhirnya laporan aku selesaikan di rumah. Esok paginya aku datang seperti biasa. Kantor masih sepi. Jam dinding menunjukkan pukul 07.40 WIB. Segera aku masuk ke ruang atasanku untuk meletakkan laporanku di mejanya. Begitu pintu ruang yang agak berbunyi itu kubuka. Kulihat pemandangan yang cukup mengagetkan disertai pekikan orang terkejut.

"Maaf pak.", hanya itu yang aku katakan dan pintu kututup lagi.
Aku menuju mejaku dengan pikiran kacau, heran. Meski aku sudah duduk di kursiku, aku masih tertegun. Tidak ada pekerjaan yang aku lakukan kecuali memikirkan pemandangan yang baru saja kulihat. Sebentar kemudian, rekanku Nita keluar dari ruang kerja Pak Hartono sambil merapikan pakaiannya. Dia menuju mejanya dengan wajah tertunduk. Sejenak dia terdiam tanpa aktivitas.
"Rud, dipanggil Pak Hartono.", katanya memecah kesunyian.
"O ya? Makasih ya.", segera aku menuju ruangan Pak Hartono sambil tidak lupa membawa laporan yang diminta.
"Pagi Pak. Maafkan saya Pak." kataku memberi salam sambil meminta maaf.
"Pagi.", jawabnya singkat.
"Ini laporannya Pak.", kataku sambil meletakkannya di meja.
Hening sejenak.

"Permisi Pak.", kataku sambil hendak keluar.
Sebelum aku beranjak, Pak Hartono mencegahku, "Sebentar!"
"Iya Pak?", tanyaku.
"Duduk dulu Nak Rudy! Nak Rudy, baru saja melihat perbuatan saya dengan Nita. Tidak bisa ditutupi lagi. Tetapi dengan peristiwa tadi saya mohon Nak Rudy tidak menceritakan kepada siapapun!", kata Pak Hartono kemudian.
"Iya Pak.", jawabku.
"Bener ya? Saya betul-betul memohon kepada Nak Rudy. Nak Rudy tahu sendiri bagaimana selama ini orang melihat saya. Saya dikenal sebagai orang yang baik.", Pak Hartono memohon kepadaku.
"Ini nak Rudy, saya berikan sejumlah uang lewat cek tetapi imbalannya Nak Rudy harus tutup mulut.", katanya sambil mengeluarkan lembaran cek kosong untuk ditulis.
"Nggak perlu Pak, saya betul-betul akan tutup mulut Pak.", sergahku sambil mencegah dia menggoreskan penanya pada lembaran cek.
"Ya sudah. Terima kasih laporannya ya.", katanya lagi.
"Iya Pak. Permisi Pak", kataku sambil keluar ruangan.
Di luar aku melihat Nita sudah mulai mengerjakan sesuatu, tetapi begitu aku muncul dia agak grogi. Seharian Nita seperti seorang pendiam.
Sampai-sampai temanku bertanya, "Kamu ada masalah Nit?"
"Nggak.", jawabnya singkat.
Aku mencoba menunjukkan sikapku dengan menimpali, "Nita sedang sakit gigi."
"Iya Nit?", temanku menanyakan.
Dia mengangguk, berbohong.

Hari Senin pagi aku dipanggil Pak Hartono.
"Nak Rudy, saya percaya dengan ucapan Nak Rudy kemarin. Hanya saya membutuhkan sesuatu untuk menenangkan hati saya.", kata Pak Hartono sambil menyodorkan selembar kertas bermaterai.
Kuambil kertas tersebut dan kubaca kalimat-kalimat yang tertulis.
"Saya harap Nak Rudy mau menandatanganinya!", Pak Hartono memohon.
"Saya sengaja menulisnya demikian, saya harap Nak Rudy bisa memahaminya. Ini bukti transfernya. Sebelum ke sini saya sempatkan mampir ke ATM.", katanya lagi.
"Baiklah, kalau dengan hal ini Pak Hartono lebih percaya dan merasa tenang, saya bersedia Pak. Tetapi Pak, bukankah transfer rekening ini justru mencurigakan bagi istri Bapak?", kataku kemudian.
"Nggak ada masalah tentang hal itu Nak Rudy. Transfer saya ke rekening Nita tidak pernah bermasalah.", katanya yakin.
Tanpa menunggu lama aku langsung menandatangani "Surat Pernyataan" yang sengaja dibuat Pak Hartono sehubungan dengan peristiwa Hari Jum'at kemarin.
"Terima kasih Nak Rudy.", Pak Hartono menyalamiku.
"Ada hal lain yang mau disampaikan?", tanyaku.
"Nggak ada. Sudah cukup Nak.", katanya.
"Kalau begitu, saya mau kembali ke meja saya.", kataku lagi.
"Silahkan.", katanya.

Di luar, aku melihat wajah Nita sudah normal sebagaimana biasa. Nita aku kenal sebagai wanita yang baik-baik pula. Dengan peristiwa kemarin aku sangat terkejut dan tidak habis fikir. Mumpung masih pagi, teman-teman belum datang, aku mau "menginterogasi" Nita.
"Hai Nit.", sapaku.
"Pagi Rud.", jawabnya.
"Boleh nanya Nit?", tanyaku.
"Soal kemarin?", dia menebak.
"Iya. Kamu nggak usah khawatir Nit, baru saja aku menandatangani Surat Pernyataan.", kataku.
"Ya, aku sudah tahu. Mau nanya apa?", tanyanya.
"Boleh tahu latar belakang dan awal mula kamu berhubungan dengan Pak Hartono?", tanyaku.
"Sebetulnya aku malu Rud, tapi apa daya? Kamu sudah memegang kartunya.", dia menjawab.
"Kan baru saja kartunya saya kembalikan tadi?", kataku sambil tersenyum.
Sejenak Nita meneliti ruangan, memastikan tidak ada orang lain.
"Begini aja Rud, nanti saja habis pulang kantor kita mampir di kedai es teler depan kantor. Sebentar lagi teman-teman pasti datang.", pintanya.
"OK. Terserah kamu saja.", kataku.

"Aku tidak habis mengerti, aku mempunyai dorongan seksual yang besar.", katanya membuka cerita, "Sejak kelas 4 SD aku sudah terbiasa mastrubasi dan kebiasaan itu berlanjut hingga sekarang. Aku tidak pernah berfikir untuk melakukan hubungan seks dengan laki-laki sebelum pernikahan, karena jika orang tuaku dan orang-orang yang aku kenal mengetahuinya, harga diriku akan jatuh. Sebagaimana sekarang di hadapanmu."
"Tapi kamu telah melakukannya.", selaku, "Awalnya bagaimana?"
"Sebulan setelah aku bekerja di sini aku dipanggil Pak Hartono. Dia merayuku.", katanya melanjutkan cerita.

Nita pun mengisahkan awal mula skandal seksnya dengan Pak Hartono.
"Nita, kamu mau menolong saya?"
"Menolong apa Pak?"
"Meski baru sebulan kamu bekerja, tetapi sedikit banyak kamu telah mengenal saya. Saya sudah sering cerita tentang istri saya yang sibuk dengan organisasinya sehingga waktunya untukku sebagai suaminya sangat kurang. Tapi kamu tahu bahwa saya dikenal sebagai orang yang baik-baik. Saya tidak ingin, gara-gara hubungan yang kurang baik dengan istri, nama saya jatuh. Saya melihat kamu orangnya baik. Saya memohon kepadamu, sesekali dapat menemani saya untuk menggantikan peran istri saya. Saya tidak memaksa. Tapi tolong jangan menceritakan hal ini kepada siapapun! Kamu tidak harus menjawabnya sekarang."
"Seharian aku memikirkan terus hal itu Rud. Aku tidak habis mengerti mengapa aku tidak menolaknya seketika? Mungkin karena tawaran Pak Hartono bertemu dengan kepentinganku atas dorongan seksualku."
"Dan esok harinya kamu menerima tawarannya?", tanyaku menyelidik.
Nita mengangguk.

"Aku pikir yang ini tidak sama dengan yang selama ini aku pikirkan. Pak Hartono dikenal sebagai orang terhormat, jadi aku yakin dia juga akan menjaganya dengan baik.", Nita melanjutkan kisahnya, "Biasanya kami melakukannya kalau ada tugas luar atau kencan di tempat tertentu."
"Tapi sepandai-pandai Tupai melompat suatu kali akan jatuh juga.", selaku.
"Betul Rud. Peristiwa kemarin tidak direncanakan. Kami janjian ketemu pagi untuk urusan kantor, ada hubungannya dengan laporanmu. Tapi tiba-tiba Pak Hartono ingin membuat sensasi, berhubungan di kantor. Aku sudah memperingatkannya, tapi dia tidak peduli. Mungkin karena merasa selama ini aman-aman saja. Dan apa yang aku perkirakan terjadi.", katanya kemudian.
Nita menghentikan ceritanya. Mungkin hanya itu yang perlu diceritakan kepadaku. Dan aku pun sudah merasa cukup dengan ceritanya. Aku diam sejenak, menunggu Nita berbicara lagi.
"Pulang yuk. Sudah sore.", kataku setelah kami diam cukup lama.
Setelah itu, muncul sebuah gagasan. Aku harus mendapatkan Nita!

Esok harinya aku memulai rencanaku.
"Nit, pulang kantor kita minum es lagi yuk!", ajakku.
"Tumben?", dia bertanya keheranan.
"Ada yang penting!" kataku berlagak serius, "Nggak ada acara tho?"
"Nggak ada kok. Tapi kamu yang traktir ya!", katanya kemudian.
"OK", jawabku bersemangat.

"Ada masalah penting apa Rud?", tanya Nita penasaran.
"Aku mau mengikuti jejakmu.", kataku mantap sambil menatapnya tajam.
"Jejak yang mana Rud?", Nita semakin penasaran.
"Skandal seks.", jawabku singkat.
"Kamu? Nggak salah dengar nih?", Nita keheranan.
Aku hanya menggeleng mantap.
"Dengan siapa Rud?", tanyanya ingin tahu.
"Dengan orang yang kupercaya.", jawabku mantap sambil tersenyum.
"Boleh aku tahu?", Nita bertanya penasaran.
"Boleh.", kataku sambil mengangguk.
"Siapa Rud?", Nita bertanya penuh semangat.
"Kamu." jawabku mantap.
Nita diam sejenak. Tapi tiba-tiba dia kelihatan bersemangat.
"Apa boleh buat. Kamu pegang kartu." katanya sambil tersenyuim.
"Sudah kukembalikan ke Pak Hartono." kataku sambil tersenyum pula.
"Kapan kita mulai? Di mana?", tantangnya.
Aku tersenyum kemenangan. Skenarioku berjalan begitu mulus.
"Kamu lebih tahu.", aku sengaja memposisikan diri sebagai seorang pemula.
"OK. Hari Sabtu lusa di rumahku.", jawabnya mantap.
"Teman-temanmu?", tanyaku menguji rencananya.
"Nggak masalah. Mereka mau pulang kampung semua.", katanya yakin, "Bagaimana?"
"OK.", jawabku sambil tersenyum penuh kemenangan.
Terbayang dalam benakku, aku dan Nita bermain seks bersama.

Sabtu itu aku datang sesuai janjiku.
"OK juga rumah kontrakanmu.", komentarku memuji.
"Lumayan.", jawabnya.
Nita menutup pintu lalu mendekatiku, merangkul leherku dan mencium bibirku. Aku menyambutnya, namun tidak lama aku lepaskan.
"Nanti kalau ada yang datang bagaimana?", tanyaku.
"Biasanya sih jarang sekali ada tamu. Kalaupun ada, gampang. Nanti aku katakan sedang tidur.", jawabnya enteng.
"Kita di dalam aja yuk!", ajaknya sambil menuntunku ke kamarnya.

Memasuki kamarnya aku mencium parfum yang membangkitkan gairah. Kulihat spring bed yang sudah ditata rapi.
"Sebentar ya," katanya menuju kamar mandi.
Aku menunggunya sambil melihat-lihat kamarnya.
Tidak lama kemudian dia berkata dari kamar mandi, "Rud kamu jangan lihat sini dulu!"
"OK", kataku sambil membelakangi kamar mandi.
"Sekarang balikkan tubuhmu!", katanya mengejutkanku.
Aku pun segera berbalik.
"Wow.", spontan aku memuji keindahan tubuhnya.
Jantungku berdebar, penisku mulai menegang. Nita yang mempunyai face yang cukup manis dan body yang menarik telah berdiri dihadapanku dengan hanya memakai gaun tidur yang transparan, tanpa BH tanpa celana dalam. Aku tersenyum sambil terus menikmati tubuhnya. Tidak rugi kalau aku membuat skandal dengan Nita.
"Pelajaran pertama, aku akan membuka pakaianmu satu persatu." katanya sok menggurui.

Aku diam saja, untuk sementara aku pura-pura sebagai pemula. Dia memelukku dari belakang dengan lembut. Kurasakan hangat dan lunak buah dadanya di punggungku. Dia menciumi leher dan telingaku sambil mendesah-desah, sementara tangannya membuka kancing bajuku satu persatu. Bajuku dilepaskan, sambil terus menciumi leherku. Aku menikmatinya. Sekarang, tangannya meraba-raba dadaku dan jari-jarinya memijit-mijit putingku. Dia berputar ke depan, mencium pipiku dan mulutku. Ciumannya aku sambut. Kami saling menyedot sebentar, karena dia terburu melepaskannya. Dia mendorongku ke belakang hingga aku terlentang di spring bed. Dia menciumi dadaku, putingku dimain-mainkan oleh lidahnya, digigit, disedot. Sebentar kemudian dia menuju ke perut. Celanaku mulai dilepasnya. Penisku yang sudah tegang sejak tadi langsung terlihat berdiri dengan gagahnya. Segera dia "memakan" penisku. Nita memainkan penisku dengan irama dan lidahnya memberi tekanan. Disedotnya penisku dalam-dalam. Dia lalu berdiri, melepas gaunnya. Aku nikmati aksinya ketika melepas gaun. Mukanya mendekati mukaku.
"Bagaimana pelajaran pertamaku?", tanyanya mengharapkan pujian.
"Boleh juga.", pujiku.
"Sekarang, kamu berdiri!", dia memerintah lagi.
"Berdiri?", tanyaku keheranan.
"Iya. Nurut aja!", katanya lagi.

Aku berdiri menunggu apa yang akan dilakukannya. Dia mengambil jarak 2 meter di depanku, membelakangiku. Kami sudah sama-sama bugil. Tubuhnya mulai meliuk-liuk, tangannya berputar-putar. Sesekali dia mendekatiku menyodorkan putingnya padaku dan ketika mulutku mau "menerkam", dia segera mundur. Kadang dia terlentang memamerkan memeknya padaku. Sekitar 5 menit dia menari. Selesai menari dia menyuruhku berbaring terlentang.

Kali ini dia mulai agresif. Putingku dilumat habis-habisan, sementara tangannya mengocok penisku. Desahannya cukup keras, "Mmm.. Egh.. Mmm.. Egh.. ". Kemudian dia langsung "menyerang" penisku. "Sluprt.. Sluprt.. Sluprt.. ". Dia memasang posisi 69. Aku dipaksa menikmati memeknya. Lidahku kumainkan pada klitorisnya. Kutekan, kusedot, kutekan, kusedot. Pinggulnya berayun-ayun keenakan. Aku beralih ke lubang vaginanya. Aku sudah merasakan lubangnya melebar, hangat, dan basah. Kujilati cairan yang ada. Kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya. Keluar, masuk, keluar, masuk. Sesekali aku sedot. Tiba-tiba dia melepaskan penisku. Pinggulnya digoyang lebih cepat dan memeknya ditekan ke mukaku. Aku tidak bisa apa-apa lagi. Aku merasakan gerakan maju mundur sebentar, sebelum tanganku menepuk pahanya memberi isyarat. Dia pun berhenti.

"Sorry Rud, aku lupa.", katanya sambil ngos-ngosan.
Pantatnya diangkat. Kemudian dia memasang posisi normal.
Mukaku yang basah oleh cairan vaginanya dijilati sampai bersih. Kemudian penisku segera dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Posisi tubuhnya tegak, hingga aku dapat menikmati buah dadanya yang bergoyang-goyang. Dia menengadah ke atas sambil mendesah, "Ah.. Ah.. Ah.. ". Sebentar kemudian, tubuhnya jatuh ke tubuhku. Sambil menggoyang pinggulnya dia memelukku erat. Pantatnya segera kupegang, aku raba, aku remas. Dia mulai mengerang, "Egh.. Egh.. Egh.. ". Pelukannya semakin erat, diiringi tekanan pinggul yang cukup kuat, tubuhnya bergetar dan sejenak kemudian aku rasakan denyutan kuat, basah dan hangat diikuti erangan panjang, "Eghh..". Beberapa detik kemudian dia terdiam, hanya kudengar nafasnya yang mulai melambat.
"Enak Nit?", tanyaku sambil tersenyum.
"Kamu memang betul-betul pemula Rud.", katanya, "Dari tadi, kamu diam aja Rud?"
Rupanya dia masih mengira aku seorang pemula. Mungkin karena aku kurang aktif.
"Jangankan bergerak, kaya gini aja kamu sudah enak tho? Apalagi kalau aku bergerak.", aku mulai unjuk gigi.
Dia bangun mengeluarkan penisku yang masih tegang.
"Mungkin juga.", katanya setelah melihat penisku. Dia coba mainkan penisku lagi dengan mulutnya. Mungkin dia berharap aku bisa segera orgasme. Nggak lama dia melakukan hal itu, dia segera pasang posisi terlentang.
"Ayo Rud, buktikan ucapanmu!", Nita memintaku untuk bermain di atas.

Segera kumasukkan penisku pada lubang vaginanya. Masih dalam posisi tubuh tegak dan pinggulku aku goyang-goyang, aku raba-raba tubuhnya. Buah dadanya aku remas, putingnya aku mainkan dengan jariku. Dengan terus menggoyang berirama, aku mulai turun memainkan putingnya dengan mulut dan lidahku. Dia kembali mendesah, "Ah.. Ah.. Ah.. ". Putingnya kugigit, kusedot, dan mukaku kutekankan pada buah dadanya. Hanya sebentar aku melakukannya. Aku ganti memeluknya sambil dadaku aku goyang-goyang. Dia mulai mengikuti irama pinggulku. Aku pun segera mengganti irama, ada penekanan, dan pelukannya aku eratkan sedikit. Dia mulai mengerang, "Egh.. Egh.. Egh.. ". Tangannya menarik pantatku. Irama goyangan kuubah lagi, tekanan kutambah dan kutahan. Semakin erat remasan tangannya pada pantatku. Pelukanku kueratkan lagi. Dia muali bergetar, aku pun menekan pinggulku dan kutahan. Tubuhnya bergetar, dan kurasakan lagi denyutan itu. Dia pun mengerang panjang, "Eghh..".
"Mau lagi nggak?" aku berbisik.
Dia mengangguk. Aku kembali memberi "hadiah" kepada Nita. Dan ternyata bukan yang terakhir. Nita minta berkali-kali. Dan akhirnya. "Sekali lagi Rud, tapi ini yang terakhir!", jawab Nita ketika kutawarkan lagi. Sekarang aku melakukannya bukan hanya untuk Nita tapi untukku juga. Dan aku berhasil mengaturnya sehingga kami orgasme bersama-sama. Kali ini dia langsung terkulai. Tangannya terlentang, matanya terpejam.

Kukeluarkan penisku dan aku menuju kamar mandi, mandi. Nita tertidur pulas. Setelah aku berpakaian rapi, aku segera merapikan pakaiannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu aku ke ruang tamu. Aku membaca-baca koran dan majalah yang ada sambil menikmati makanan kecil dan segelas sari buah. Satu jam lamanya aku menunggu Nita yang terlelap.
"Rud, kamu di mana?", teriaknya.
"Di sini. Ada apa Nit?", aku menuju kamarnya.
"Makasih ya Rud. Kamu kok hebat banget? Jangan-jangan kamu gigolo?", katanya menebak.
"Enak aja ngomong. Terus terang Nit, aku mungkin seperti kamu. Aku terbiasa onani dan baru kali ini aku bercinta dengan wanita, ya dengan kamu ini." kataku mencoba meyakinkan.
"Nggak percaya.", sergahnya.
"Emang kamu pernah main sama gigolo?", tanyaku kemudian.
"Enggak juga sih. Temanku pernah. Dia dibuat KO sementara gigolonya belum apa-apa.", katanya bercerita.
"Berapa kali dia orgasme Nit?", tanyaku.
"Dia itu maniak Rud, kuat sampai 10 kali. Gila nggak tuh? Mungkin karena jam terbangnya lebih tinggi dari aku.", katanya berkomentar tentang temannya.
"Kamu sendiri tadi berapa Nit?", tanyaku sambil tersenyum.
"Pengin tahu aja.", katanya tersipu.
"Sekedar perbandingan aja.", aku memberi alasan.
"Hanya 7 kali.", jawabnya masih tersipu.
"7 kali apa lebih?", tanyaku menyelidik.
"Sueerr, cuma 7 kali.", katanya lagi.
"Biasanya sama Pak Hartono berapa kali?", tanyaku ingin tahu.
"Kalau aku berhasil mencuri start, bisa dapat 3. Bahkan pernah, aku nggak dapat sama sekali. Kalau seperti ini biasanya aku minta lagi setelah dia istirahat.", dengan semangat dia mengisahkan pengalamannya dengan Pak Hartono.
Mungkin kali ini dia merasa beruntung sekali bermain seks denganku.
"Nit aku pamit dulu ya?", aku minta ijin.
Nita bangun, merangkulku, menciumku, kami bercumbu sebentar.
"Kapan-kapan kita main lagi ya?" pintanya.
"OK", kataku sambil tersenyum.
Aku melepaskan pelukannya.
"Segera mandi, nanti ada tamu!", perintahku sebelum aku meninggalkannya.

Setelah peristiwa itu setidaknya kami bercinta seminggu sekali, kecuali jika ada hal khusus, tugas luar kota misalnya. Kabarnya dia juga masih setia "menemani" Pak Hartono. Aku tidak tahu apakah Pak Hartono mengetahui hubungan kami. Yang jelas, dia tidak pernah terlambat untuk mentransfer sejumlah uang ke rekeningku tiap bulan. Suatu ketika Nita mempunyai sebuah gagasan.
"Rud, kamu jadi gigolo aja!"
"Apa? Aku nggak ada pikiran ke sana tuh. Bagiku, keberadaanmu sudah cukup. Nanti kamu malah cemburu."
"Ya enggak lah. Wong kita bukan kekasih kok. Aku melakukannya hanya untuk kesenangan. Kamu bebas berhubungan dengan siapa saja. Maksudku, barangkali nih, ada orang-orang seperti aku, yang gairah seksnya besar, tapi ingin melampiaskan dengan cara sepertiku. Dan kamu adalah orang yang tepat."
Aku hanya manggut-manggut tanda mengerti.
"Kalau itu maksudmu, terserah. Mungkin ada temanmu yang membutuhkan, silahkan!"

Sejak itu aku tidak hanya bercinta dengan Nita saja, tapi juga dengan teman-temannya. Ada Bu Dewi, Bu Sinta, Mba Rini, Mba Ayu, dll. Mereka semua tidak saling kenal. Dan aku betul-betul menjaga privasi mereka, disamping tentu menjaga diriku sendiri. Kadang mereka memberiku sejumlah uang. Aku tidak tahu apa yang Nita katakan tentangku kepada mereka. Gigolokah? Aku tidak tahu. Dan apakah Nita meminta tips kepada mereka? Aku juga tidak tahu. Ketika kutanyakan hal itu kepada Nita, dia mengelak dan mengatakan.
"Sueerr.. Aku tidak ngomong kamu gigolo. Kalau nggak percaya, tanya aja langsung sama orangnya. Dan kalaupun dia ngasih kamu sejumlah uang, mungkin sekedar tanda ucapan terima kasih padamu."
Satu hal yang pasti. Aku bercinta dengan mereka hanya ketika aku ada kesempatan dan "sedang membutuhkan". Jika salah satu dari dua hal ini tidak terpenuhi, permintaan mereka aku tolak dengan halus. Dan mereke bisa mengerti. Sehingga sampai sekarang aku "masih kelihatan" menjalani kehidupan yang normal dihadapan teman-temanku. Tidak pernah sekalipun ada kecurigaan mereka padaku.

Kepada Nita, suatu saat hubungan kita pasti akan berakhir, oleh karena itu persiapkanlah agar Happy Ending!

Semua nama yang aku sebutkan di atas adalah nama samaran untuk menjaga privasi mereka. Dan aku pun akan menjaga diriku sendiri dengan caraku.

Semarang, 23 Mei 2003

Tamat Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
thumbnail Title: Cerita Sex : Nita kolegaku
Posted by:Unknown
Published :2012-11-08T10:13:00+07:00
Rating: 4.5
Reviewer: 7 Reviews
Cerita Sex : Nita kolegaku

0 komentar:

Posting Komentar

Komen yang sopan....
Kalau ada kesalahan pada posting atau link rusak. Bilang aja sama admin.
Jangan nge SPAM, jangan karena blog ini dofollow
Intinya, Anda sopan saya segan, Anda lancang saya cincang...!!!
Saya memoderasi komentar Anda, supaya saya bisa membaca komentar2 dari Anda