Titan, Tempat Paling Layak Huni Menggantikan Bumi
Rahasia Menjadi Manusia yang Kaya Raya
40 Bentuk PC Paling Menakjubkan Yang Belum Pernah Anda Lihat
10 Negara Ini Pernah Ada di Bumi dan Sekarang Hilang
9 Tuntutan Yang Pernah Dilayangkan Kepada Google
Elizabeth terdiam memikirkan perkataan Robin. Robin baru saja mengomentari cara berpakaiannya hari itu. Elizabeth pikir baju yang dikenakannya cukup stylish. Ia seorang pemerhati mode dengan menyimak majalah-majalah terbitan dalam maupun luar negeri. Ia juga menonton acara-acara fashion di televisi. Ia tahu apa yang dikenakannya petang itu cukup pantas dan trendy. Tetapi kenyataannya Robin berpikiran lain.Rahasia Menjadi Manusia yang Kaya Raya
40 Bentuk PC Paling Menakjubkan Yang Belum Pernah Anda Lihat
10 Negara Ini Pernah Ada di Bumi dan Sekarang Hilang
9 Tuntutan Yang Pernah Dilayangkan Kepada Google
"Kamu pakai baju itu jadi kelihatan seperti anak sekolah."
Elizabeth mengenakan rok mini model hipster, stocking warna putih susu, dilengkapi sepatu berhak stiletto lima senti berwarna senada.
Sikap percaya dirinya sedikit terusik. Tapi ia segera kembali bersikap tenang dan mencoba berpikir positif terhadap komentar Robin. Elizabeth tersenyum dan berkata,
"Oh? Saya pikir baju yang saya kenakan membuat saya tampak beberapa tahun lebih muda. Sayang kamu nggak berpikir demikian."
Robin mengerling dengan ekspresi skeptis. Elizabeth mendekati sofa tempat Robin duduk, mengulurkan kedua lengannya menyentuh pipi Robin, kemudian merunduk mengecup bibir Robin. Dengan cepat dan agak kasar Robin menarik Elizabeth ke pangkuannya, kemudian diciumnya bibir Elizabeth dengan gemas. Setelah bercumbu sekitar lima menit, mereka pun merapikan diri untuk keluar makan malam sesuai rencana.
Di mobil, Robin bercerita tentang beban pekerjaannya yang minggu itu terasa lebih berat dibanding minggu-minggu sebelumnya. Hal itu disebabkan salah seorang rekan kerjanya dipecat karena terlibat kasus penggelapan sejumlah besar uang milik perusahaan. Dari samping, Elizabeth mendengarkan sambil memandangi wajah kekasihnya yang tampan dengan ekspresi seriusnya. Elizabeth mencintai Robin. Ia memujanya lebih dari siapapun di dunia. Elizabeth begitu tergila-gila dengan semua yang ada pada diri Robin. Perasaannya terhadap Robin begitu indah hingga ia tidak berhenti bersyukur. Ia merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan Robin.
Sepanjang perjalanan menuju restoran Azzura, tempat favorit mereka selama enam bulan terakhir, Robinlah yang mendominasi pembicaraan. Elizabeth hanya mengomentari dengan beberapa patah kata di sana sini. Setibanya di restoran, greeter segera menyambut,
"Selamat malam Bu Elizabeth. Wah.. Anda terlihat cantik sekali malam ini! Selamat malam Pak Robin. Mari saya antar ke meja."
Malam itu terasa menyenangkan bagi Elizabeth. Suasana restoran yang romantis dengan cahaya lilin berpendaran di atas meja mendukung terciptanya kemesraan di antara mereka berdua. Elizabeth tersenyum hampir sepanjang waktu. Lelucon-lelucon Robin selalu mampu membuat Elizabeth tertawa lepas. Makanan dan minumannya pun terasa lebih enak dari biasa. Meski demikian ia tak mampu makan banyak. Kegairahan dan kebahagiaannya malah membuat nafsu makannya berkurang.
"Kamu makan terlalu sedikit. Ayo dong dihabiskan makanannya." Robin mengomentari.
"Nggak ah, aku sudah ngerasa kenyang. Makasih buat makan malam yang indah ini, sayang."
Tersenyum manis Elizabeth menjawab sambil mengusap mesra lengan Robin. Robin mendekatkan wajahnya hingga pipi Elizabeth terkena hembusan hangat nafas Robin. Elizabeth merasakan hasrat Robin terhadap dirinya. Beberapa kali pada beberapa kesempatan, mereka bercumbu hangat hingga mencapai titik dimana mereka merasakan keinginan kuat untuk mempersatukan jiwa raga dalam api cinta yang membara.
Namun tiap kali Robin harus menahan diri setengah kecewa, saat Elizabeth tiba-tiba berhenti dan mencegahnya melakukan tindakan lebih lanjut. Elizabeth memegang teguh prinsipnya untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum resmi terjadi pernikahan di antara mereka. Ia menuruti anjuran John Gray, Phd. Seorang penulis Amerika, dalam bukunya yang berjudul: Mars and Venus: On a Date. Di buku tersebut ditulis tentang pentingnya wanita membatasi hubungan fisik dengan pasangan prianya sampai tahap tertentu dalam kencan, agar wanita mendapatkan rasa hormat dari pasangan prianya, demikian pula sebaliknya, hingga hubungan mereka dapat berhasil mencapai jenjang pernikahan.
Malam itu langit cerah berbintang, bulan membulat penuh, saat mereka keluar dari restoran menuju mobil Robin di tempat parkir. Mereka tidak perlu memikirkan beban pekerjaan kantor karena besok hari libur. Jadi mereka masih punya malam cukup panjang untuk dilewatkan bersama. Robin meluncurkan mobilnya menuju dermaga pantai di pinggir kota. Dermaga tersebut adalah tempat dimana banyak orang yang tinggal di kota mengunjunginya, untuk menemukan suasana lain, juga pemandangan indah lepas pantai. Di sekitar dermaga terdapat beberapa pub tempat orang bersosialisasi sambil minum, serta bermain bilyar.
Setibanya di dermaga, mereka bergandengan tangan menuju ujung dermaga untuk menikmati pemandangan ke arah laut lepas. Angin pantai bertiup lembut menyibak ke belakang rambut Elizabeth yang panjang hingga bahu. Jemari tangan Robin meremas jemari tangan Elizabeth sambil melirik wajahnya dari samping. Cahaya bulan memperjelas figur wajah Elizabeth, yang dari samping tampak melankolis, namun dengan rahangnya yang tegas menciptakan perpaduan kelembutan dan keteguhan hati. Elizabeth mendongakkan wajah memandang Robin. Mereka berhenti berhadap-hadapan.
Robin menundukkan wajah menautkan bibirnya di bibir Elizabeth. Begitu lembut Robin mengecup bibir Elizabeth hingga dapat ia rasakan getaran dan kelembabannya. Robin belum mau berhenti menikmati manis bibir Elizabeth, lidahnya mulai menyelusup bergelut dengan lidah Elizabeth. Bersamaan dengan itu ia rapatkan tubuh Elizabeth ke tubuhnya hingga ia rasakan hangat dan kenyal kedua tonjolan payudara Elizabeth di dadanya. Mereka berciuman dan berpagutan, menghirup hembusan hangat nafas satu sama lain.
Gairah Robin tersulut, dan ada sesuatu mulai mengeras di pangkal paha Robin menekan perut Elizabeth. Elizabeth berusaha menyingkirkan pikiran untuk menyentuhnya, kemudian menghentikan ciuman dan mengendorkan pelukan. Robin tahu ini akan terjadi, ia pun turut berhenti. Setelah sejenak mendinginkan kepala dan meredakan gairah yang sempat meletup, mereka pun masuk ke dalam salah sebuah pub.
Mereka duduk di bar dan memesan red wine. Musik dari jukebox mengalun menghidupkan suasana pub yang saat itu dikunjungi sekitar sepuluh orang pengunjung. Interior pub bergaya mediterania dengan warna-warna hangat yang dominan. Beberapa orang pengunjung terlihat tengah asyik bermain bilyar.
Saat tengah menikmati sedapnya red wine, masuk ke dalam pub sepasang lelaki dan perempuan. Si perempuan tampak seronok. Baju model kemben warna hitam membalut tubuhnya yang padat berisi. Belahan payudara menyembul dari balik kembennya yang ketat. Rok super mini membalut pinggulnya yang membulat buah pear, memamerkan kedua paha dan tungkainya yang mulus. Mereka mengambil tempat duduk di sebelah Elizabeth dan Robin. Si perempuan yang duduk di sebelah Robin memanggil bartender untuk memesan dua gelas margarita. Kemudian si perempuan mengambil sebungkus rokok dari dalam tasnya. Setelah menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya, ia mulai mencari-cari ke dalam tas, namun lighter untuk menyalakan rokoknya tidak berhasil ditemukan. Si lelaki bukan seorang perokok rupanya, karena si perempuan kemudian berpaling ke arah Robin,
"Hai.. Maaf mengganggu.. Tapi lighter saya nggak ketemu nih.. Boleh pinjam lighter kamu?"
Rupanya si perempuan sempat memperhatikan Robin mengAntongi sebuah lighter.
"Oh boleh.. Silahkan.." kemudian Robin membantu menyulutkan rokok si perempuan dengan lighternya.
"Terimakasih.. Saya Cindy..", perempuan tersebut mengulurkan tangan seraya menghembuskan asap rokoknya. Robin pun menyambut jabatan tangan si perempuan yang berjemari lentik dengan kuku-kuku berkuteks warna merah terang, sewarna dengan lipsticknya.
"Perkenalkan.. Ini David," ia berkata sambil menggamit lengan teman lelaki yang datang bersamanya. Robin menjabat tangan David.
"Ini Elizabeth.." Robin memperkenalkan Elizabeth kepada Cindy dan David. Mereka pun segera terlibat percakapan.
Cindy dan David rupanya pasangan yang demonstratif dalam mengekspresikan kemesraan. Sepanjang percakapan, mereka berdua tidak hentinya saling belai, kadang-kadang saling kecup tanpa rasa sungkan. Di suatu saat, sambil menggelendot manja, Cindy membisikkan sesuatu ke telinga David. Kemudian David menyeringai dan menempelkan bibirnya ke bibir Cindy. Kali itu ciumannya lama. Mereka mulai berfrenchkiss dan bernafsu.
Elizabeth dan Robin jadi merasa jengah melihatnya. Ternyata pertunjukan mereka tidak hanya itu. Tangan Cindy mulai singgah di paha David dan sambil membisikkan kata-kata mesra mulai mengusap-ngusap dan bergerak naik ke pangkal paha David. Suasana pub yang mulai ramai tidak mengganggu mereka berdua. Elizabeth dan Robin pura-pura tidak memperhatikan tingkah mereka. Jemari Cindy yang berkuteks merah mulai mengelus-ngelus tonjolan di balik celana pada pangkal paha David. Karena dielus-elus dengan sensual, tonjolan tersebut jadi membesar.
Cindy tertawa cekikikan sambil mendekatkan mulutnya ke telinga David, mungkin membisikkan sesuatu yang cabul, karena wajah David kemudian bersemu merah dengan seringai penuh arti. David menciumi samping leher Cindy, kemudian salah satu lengannya yang melingkari pinggang Cindy mulai bergerak turun ke paha. Karena rok Cindy super mini, maka tangannya segera menyentuh kulit paha Cindy yang telanjang. Belaiannya bergerak ke bagian dalam paha Cindy. Tangannya masuk ke dalam rok mini Cindy. Kedua paha Cindy agak membuka membiarkan tangan David menyinggahi pangkal paha di balik rok mininya.
Terlihat lengan David bergerak-gerak di situ, jemarinya mengorek-ngorek apa yang ada di balik celana dalam Cindy, itu pun apabila Cindy mengenakanya. Cindy menggelinjang dan tertawa cekikikan. Mereka kini berpelukan rapat tidak memedulikan orang-orang di sekitar. Mereka tidak mampu membendung nafsu berahi yang kadung tersulut. Mereka segera bangkit dari kursi.
"Waduh.. Jadi kebelet pipis nih. Ditinggal dulu yaa.." Demikian Cindy berkata kepada Elizabeth dan Robin seraya menarik lengan David.
Robin melirik Elizabeth dan berkata, "Taruhan, mereka pasti akan melakukannya di toilet."
Elizabeth menjawab, "Mereka berdua benar-benar pasangan hot yang nggak tahu malu."
Robin menyeruput red wine di gelasnya, kemudian sambil memutar-mutar gelas berkata, "Rasanya aku ingin pipis juga nih sekarang.. Tunggu sebentar ya sayang, aku mau ke toilet dulu."
"Okay." Jawab Elizabeth ringan.
Robin pun beranjak dari kursinya menuju toilet. Sebenarnya ia tidak berniat buang air kecil. Ia mau membuktikan dugaannya tentang kegiatan yang akan dilakukan Cindy dan David di toilet.
Toilet wanita dan toilet pria bersebelahan. Robin memperkirakan Cindy dan David menggunakan toilet wanita. Letak toilet berada di bagian belakang bangunan utama, terpisah oleh jalan setapak. Keadaan saat itu sepi hingga aman bagi Robin untuk menyelinap ke dalam toilet wanita tanpa seorang pun memergoki. Di dalam toilet wanita terdapat vas bunga segar di atas meja, dua buah kursi kayu, meja marmer dengan wastafel serta cermin besar menempel di dinding. Di situ terdapat empat ruangan bersekat-sekat. Di salah satu ruangan dengan pintu tertutup terdengar samar-samar desahan dan suara-suara.
Robin segera masuk ke ruangan persis di sebelahnya dan menutup pintu. Kebetulan sekat di antara ruang toilet tidak terlalu tinggi hingga apabila Robin naik ke atas kloset, ia akan dapat melihat kegiatan di ruang sebelah. Dengan perlahan dan hati-hati Robin naik ke atas kloset dan menongolkan kepalanya dari balik sekat. Pemandangan mendebarkan pun ia lihat. David tengah menciumi leher dan payudara Cindy yang telanjang. Kemben Cindy merosot hingga pinggang.
Cindy menyender di dinding dengan satu kaki naik ke kloset. Kepalanya tengadah dan matanya setengah terpejam, mendesah-desah nikmat. Tangan yang satu mencengkeram penis David, mengocok-ngocok. Celana dan kolor David merosot hingga ke mata kaki. Tangan yang satunya lagi berpegang di lengan David. David terlihat sangat bernafsu melahap payudara Cindy. Tangannya yang satu singgah di selangkangan Cindy, bergerak-gerak memainkan jemarinya di belahan vagina Cindy. Tangan yang satunya lagi mencengkeram kencang pantat Cindy. Rok mini Cindy tersingkap seluruhnya ke pinggang. Karena terbuat dari bahan denim yang kaku, maka rok yang tersingkap ke atas tetap di tempatnya. Tidak terlihat celana dalam wanita dimanapun. Rupanya Cindy memang sama sekali tidak mengenakannya.
Mereka berdua mendesah-desah tertahan, menikmati rangsangan dan rabaan pada alat vital masing-masing. Cairan meleleh di selangkangan Cindy. Colokan jemari David di lubang vaginanya menimbulkan bunyi-bunyian. Penis David yang memerah terlihat panjang dan besar di dalam kocokan tangan dan jemari Cindy. Kemudian Cindy duduk mengangkang di atas kloset yang tertutup. Bibir vaginanya ditumbuhi rambut tebal keriting yang basah kuyup, terbuka memamerkan klitoris yang kemerah-merahan. Tangannya terus saja mengocok penis David. Perlahan David duduk mengangkang di atas pangkuan Cindy, sambil mengarahkan penisnya yang panjang dan besar ke vagina Cindy. Robin menelan ludah membayangkan nikmatnya penis menerobos lubang sempit vagina.
Pada pompaan pertama penis David, Cindy mengerang keenakan. Kemudian menyeringai nikmat tanpa suara pada pompaan-pompaan berikutnya. Terlihat pantat David yang kekar bergerak naik turun di atas pangkuan Cindy. Penisnya yang tegang menggesek-gesek di lubang vagina Cindy. Sesekali ia melakukan gerakan memutar pinggul sambil membenamkan penisnya sedalam mungkin. Kedua kaki Cindy dengan sepatu hitam berhak tinggi menjejak di atas lantai toilet menahan pompaan David. David terus mengeluar masukkan penisnya, mula-mula lambat dan kemudian makin cepat dan bersemangat.
David mengontrol dorongan pinggulnya dengan menahan kedua kakinya yang menjejak lantai agar pompaan penisnya terasa lebih nikmat. Sambil memompa dada David menempel ketat kedua payudara montok Cindy. Kedua tonjolan payudara beserta puting yang menggesek-gesek dadanya semakin membangkitkan nafsunya. Kedua tangan Cindy mencengkeram kedua belah pantat David, membantu agar hunjaman penis David semakin dalam di vaginanya. Cindy orgasme dengan erangan tertahan. Setelah itu David semakin mempercepat pompaan penisnya, sampai akhirnya tercapailah apa yang menjadi tujuannya bersama Cindy di toilet tersebut.
Untuk sesaat David membiarkan penisnya terbenam lebih dalam menikmati hangat jepitan otot vagina Cindy seiring ia berejakulasi. Setelah puas, David pun mencabut penisnya.
"Oooh.. Thanks honey.. You're so wonderful."
David berkata sambil menaikkan kolor dan celananya. Cindy tidak berkata-kata, ia mengeringkan selangkangannya dengan kertas tissue, menurunkan rok mininya kembali dan membenahi letak kembennya. Sebelum mereka menyadari kehadirannya, Robin segera turun dari atas kloset, membuka pintu dengan hati-hati, dan menyelinap diam-diam keluar dari toilet untuk kembali ke dalam pub menemui Elizabeth.
Saat Cindy dan David kembali, Robin bersikap seolah-olah tidak mengetahui kegiatan mereka di toilet perempuan beberapa saat lalu. Tak pelak sejak saat itu mata Robin selalu mencari-cari kesempatan untuk melihat pemandangan di balik rok mini Cindy setiap kali Cindy bergerak mengganti posisi duduknya. Setelah cukup menikmati suasana pub dan mendapatkan beberapa kenalan baru lagi, Elizabeth dan Robin pun memutuskan untuk pulang.
Rupanya mereka agak mabuk malam itu. Saat kembali menuju mobil, Robin terantuk pembatas besi di tempat parkir hingga tersungkur dan wajahnya mencium pasir.
"Kamu nggak apa-apa, sayang?" dengan khawatir Elizabeth membantu Robin bangkit.
"Nggak apa-apa, aku baik-baik aja. Nggak mungkin aku mabuk hanya karena beberapa gelas wine tadi."
Robin bangkit sambil membersihkan wajah dan celana bagian depannya yang kotor oleh pasir. Agak malu juga ia terhadap Elizabeth mengingat kondisinya saat itu. Tapi sikap Elizabeth yang penuh pengertian membesarkan hati Robin.
Di dalam mobil Robin tidak segera menyalakan mesin. Mereka duduk santai sambil mendengarkan lagu-lagu dari stereo set. Tidak jauh dari tempat dimana mobil Robin parkir, terdapat sebuah lampu jalan. Daun-daun pada pepohonan sekitar yang tertimpa cahayanya menciptakan bayang-bayang indah di dashboard. Robin mengubah posisi sandaran kursi mobilnya hingga setengah berbaring. Elizabeth melakukan hal yang sama. Sambil memejamkan mata mereka menikmati musik. Pengaruh alkohol dari wine membuat mereka merasa hangat dan nyaman. Setengah mengantuk juga. Sementara sebelah matanya terpicing, mata Robin yang lain sedikit terbuka melirik Elizabeth.
Di sebelahnya Elizabeth terbaring. Matanya dipejamkan sementara kedua belah lengannya terlipat di belakang kepala. Sikap tersebut memperjelas tonjolan payudaranya, naik turun seiring setiap tarikan dan helaan nafasnya. Dua buah kancing paling atas blus satin tanpa lengan Elizabeth dibiarkan terbuka, bahan blusnya yang licin menempel di tubuhnya. Bagian atas lengannya yang telanjang terlihat putih mulus. Robin melirik ke bagian bawah tubuh Elizabeth. Rok mininya sedikit tersingkap memperlihatkan sebagian pahanya yang terbalut stocking. Ia membayangkan apa yang akan terjadi apabila rok itu ia singkapkan lebih ke atas lagi. Tentunya ia akan dapat melihat batas stocking Elizabeth dan mengetahui warna celana dalam yang dikenakannya. Robin tersenyum diam-diam, geli sendiri dengan pikiran nakalnya.
Beberapa saat kemudian Elizabeth menggeliat mengubah posisi tubuhnya. Ia menghadap ke arah Robin dan menatapnya. Tubuhnya miring dengan kaki kiri ia tumpangkan ke atas kaki kanannya. Mengetahui bahwa Elizabeth memandanginya, Robin pun menoleh ke arah Elizabeth. Mereka saling pandang. Setelah beberapa saat, ia mengusap-ngusap pipi Elizabeth, kemudian jemarinya bergerak ke arah mulut Elizabeth. Jemarinya menyentuh bibir, yang saat itu agak terbuka. Jemari Robin membelai-belai bibir Elizabeth dan Robin membiarkan jari telunjuknya masuk ke dalam mulut Elizabeth untuk dikulum.
Saat dikulum, telunjuknya merasakan hangat dan basah lidah Elizabeth hingga menimbulkan sensasi tersendiri. Setelah beberapa saat kemudian Robin menjerit. Elizabeth tiba-tiba menggigitnya,
"Ouch!", dengan refleks Robin mencabut jari telunjuknya dari mulut Elizabeth. Elizabeth tertawa geli melihat reaksi Robin yang kesakitan campur kaget. Robin segera menghukum Elizabeth dengan sebuah ciuman di bibir yang lama dan dalam.
Setelah berciuman, Robin tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh belahan dada Elizabeth yang terbuka. Di usap-usapnya dengan penuh keinginan. Elizabeth merasakan hangatnya sentuhan Robin di belahan dadanya. Ia ingin Robin tidak sekedar mengelus-elus bagian atas dadanya saja. Ia ingin Robin mengelus dan meremas seluruh bagian payudaranya dan bermain-main dengan kedua putingnya juga. Ia memandang sendu Robin. Seolah mampu membaca pikiran Elizabeth, Robin pun mulai menyentuh tidak hanya bagian atas dada Elizabeth, ia pun mulai meremas-remas perlahan payudara Elizabeth. Bahan satin blus Elizabeth membuat pergerakan tersebut lancar dan Elizabeth dapat merasakan sentuhan Robin layaknya telanjang. Elizabeth mulai mendesah sambil menyodorkan payudaranya.
Sentuhan lembut Robin pun mulai berubah menjadi remasan-remasan gemas bernafsu. Desahan Elizabeth membuat Robin hampir kehilangan kesabarannya, akan tetapi ia adalah seorang lelaki berpengalaman yang tahu bagaimana cara menaklukkan wanita. Ia tidak larut terbawa nafsu, ia menahan diri dengan penuh perhitungan. Robin mulai memainkan puting payudara Elizabeth. Dengan bantuan jari jempol dan telunjuknya puting payudara Elizabeth dipijat-pijat hingga mengeras di balik blus dan behanya, sementara itu desahan Elizabeth mulai berubah menjadi erangan lembut. Mata Elizabeth begitu sayu. Robin sadar, ia akan mendapatkan apa yang telah sekian lama ditunggu-tunggu. Malam ini saatnya, demikian batinnya.
Robin mencium bibir Elizabeth yang mengerang. Karena mulut Elizabeth tengah dalam keadaan agak terbuka, maka bibir Robin terasa begitu pas di bibir Elizabeth dan lidah Robin dapat melakukan manuver menuju lidah Elizabeth dengan leluasa. Cecapan-cecapan itu terasa nikmat. Seiring setiap kecupan dan kulumannya mereka dapat merasakan setiap bagian tubuh mereka digetarkan gairah asmara. Robin mengulum bibir Elizabeth sambil kedua tangannya bermain-main di kedua bukit kembar Elizabeth. Dibelainya apa yang bisa dibelai, diremasnya apa yang mampu ia remas.
Kedua lengan Elizabeth merangkul bagian belakang leher Robin sambil mengusap-ngusap tengkuknya. Hal itu sudah cukup untuk membuat Robin melancarkan aksinya lebih seru. Perlahan tapi pasti sebelah tangan Robin membuka satu demi satu kancing blus satin Elizabeth. Disibakkannya blus Elizabeth hingga payudara Elizabeth yang terbalut BH putih terlihat. Segera ia loloskan Elizabeth dari blus satinnya yang sedetik kemudian teronggok di bawah jok depan mobil. Dalam keadaan tanpa blus, hanya terbalut BH putih, Elizabeth tidak kuasa menghentikan tindakan lebih lanjut Robin yang ternyata selama ini diam-diam ia dambakan.
Robin tidak mau buang waktu, segera pula ia loloskan BH Elizabeth. Kini kedua gundukan montok payudara Elizabeth dengan kedua puting berwarna coklat kemerahan terpampang di depan wajahnya: bebas dan polos. Robin membenamkan wajahnya di kedua bukit kembar yang ranum itu dan menghirup keharumannya dengan suka cita. Dijilatinya payudara Elizabeth perlahan, sebagian demi sebagian, sesenti demi sesenti, dengan telaten. Tidak terbayangkan bagaimana nikmatnya hal itu dirasakan Elizabeth. Ia menggelinjang-gelinjang bergairah. Tidak disangka, ternyata kedua bukit kembar bagian dari dirinya selama ini mampu menciptakan kenikmatan baginya, dengan bantuan Robin. Robin menghisap dan mengulum puting payudaranya, kemudian lidahnya menjilat-jilat melingkari daerah sekitarnya yang sensitif, terasa oleh Elizabeth betapa menggelitik nikmat. Elizabeth hampir tidak mampu membuka kedua matanya.
Robin menyembunyikan senyumannya sambil menyusupkan tangannya ke balik rok Elizabeth. Tersentuh olehnya kehangatan lembab tonjolan di balik celana dalam Elizabeth. Ia meraba-raba di bagian itu sambil mencari-cari titik lemah paling sensitifnya. Saat tersentuh, Elizabeth menjerit kecil tertahan. Tindakan itu adalah sebuah kejutan nikmat baginya. Robin menggosok-gosok di situ. Jemarinya kemudian mulai menyelusupi tepi celana dalam di selangkangan Elizabeth. Jari telunjuknya terbenam di antara bibir vagina Elizabeth dan menyentuh tonjolan daging lembut klitoris dengan cairan licin di situ.
Elizabeth menjerit tertahan. Sementara penis Robin semakin mengeras, siap mengarungi pengembaraan di dalam gua melalui lembah vagina lembab berselimut rambut milik Elizabeth yang kini tengah ia persiapkan kematangannya. Ia semakin bersemangat memainkan jari tengah dan telunjuknya di situ, mengobel-ngobel. Ia resapi kelembutan klitoris yang hangat dan licin di antara bibir vagina Elizabeth. Ia bayangkan bentuknya. Tentunya saat itu terlihat seperti lidah yang sedikit terjulur dari bibir perempuan. Itu disebabkan rangsangan yang dilakukannya telah mampu membuat klitoris itu bertambah ukuran, basah berlendir.
Elizabeth pasrah oleh nikmat. Ia mendesah, mengerang, menjerit dan dengan tubuh gelisah merapat dan melebarkan kedua belah pahanya, sementara jemari kekasihnya mengeksplorasi bagian tubuhnya yang vital, yang selama ini ia jaga kesuciannya, yang ternyata menjadi sumber kenikmatan surga dunia. Elizabeth mencengkeram kepala Robin yang naik turun di dadanya. Keadaannya setengah telanjang dan ia tidak mencegah Robin saat Robin menarik rok mininya hingga tanggal. Kini Elizabeth hanya berbalut celana dalam putih yang keadaannya telah basah di bagian tertentu, serta stocking warna putih susunya. Sepatunya telah ia lepaskan sejak tadi. Elizabeth menikmati saat itu, ia merasa seksi dan liar.
Robin menanggalkan celana dalam putih Elizabeth. Kini Elizabeth hanya terbalut sepasang stocking hingga pangkal paha. Selangkangannya telanjang hingga bibir vaginanya yang berhiaskan rambut hitam tebal terpampang jelas, klitorisnya mengkilap oleh cairan licin bening, menyembul di antara bibir vaginanya. Robin bersimpuh membenamkan kepalanya di antara pangkal paha Elizabeth. Dihirupnya aroma khas di situ. Ia tak mampu lagi menahan nafsu berahinya kini.
Dijilatinya klitoris Elizabeth sepenuh hati. Kemudian ia kecup, dan ia jilati lagi. Demikian berulang-ulang. Digetar-getarkannya ujung lidahnya tepat di puncak mungil klitoris Elizabeth. Elizabeth berusaha setengah mati menahan teriakan yang hampir keluar dari mulutnya. Ia menggelinjang-gelinjang di dalam kabin mobil yang sempit. Tangannya mencengkeram kencang bahu Robin untuk menahan nikmat tiada terkira yang dirasakannya. Kewanitaannya berdenyut-denyut. Tak mampu ia bayangkan kenikmatan macam apa lagi yang akan diberikan Robin untuknya setelah ini. Ia menebak-nebak sambil sekali-sekali mencuri pandang ke arah penis di selangkangan Robin yang kini terlihat membesar dan mengeras di balik celana panjangnya. Elizabeth berniat memuaskan keingintahuannya. Disentuhnya bagian itu. Setelah tersentuh, dirasakannya tonjolan itu dengan jemarinya. Elizabeth meraba-raba batang penis Robin yang mengeras sambil melihat reaksi Robin. Robin kelihatan menyukai aksinya.
Elizabeth menurunkan ritsleting celana Robin. Kini celana Robin merosot hingga paha. Penisnya membentuk tonjolan besar di balik celana boxernya. Tidak sabar Elizabeth menghentakkannya ke bawah. Penis Robin mencelat keluar. Panjang, kekar, dan berwarna gelap. Dua kantung pelir menggantung di kedua sisinya. Elizabeth terpesona. Elizabeth mulai mengocok batang penis Robin yang mengaceng hingga Robin mendesah. Penis Robin terasa hangat, kemudian membesar dan jadi keras sekali. Dan saat Elizabeth terus menyentuh, membelai dan memijat-mijat dengan jempol bagian kepala penisnya, keluarlah cairan licin dari situ. Dengan cairan licin tersebut Elizabeth dapat mengocok-ngocok penis Robin dengan lebih lancar. Penis Robin menjadi semakin besar dan semakin keras. Sementara Elizabeth mengerjai penis Robin. Robin pun mengerjai klitoris Elizabeth.
Kemudian Robin mengarahkan batang penisnya ke lubang vagina Elizabeth. Mula-mula dimasukkannya bagian kepala penisnya dulu. Terasa hangat dan nikmat saat kepala penisnya terjepit lubang vagina Elizabeth yang masih terhalang selaput dara tipis. Robin memompa sebentar kemudian mendorong batang penisnya untuk menerobos lebih dalam. Agak sulit dirasakannya, tapi juga gesekannya menimbulkan rasa nikmat. Ia memompa lagi. Elizabeth menjerit-jerit, mengaduh, namun kemudian mengerang dan mendesah. Keluar-masuknya penis semakin lancar terbantu oleh cairan yang membanjiri vagina Elizabeth. Mungkin saat itu selaput dara Elizabeth telah tertembus oleh kepala penis Robin.
Robin terus menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Kian lama kian nikmat. Robin membenamkan batang penisnya lebih dalam pada setiap pompaan. Akhirnya seluruh batang penisnya amblas ke dalam lubang vagina Elizabeth yang sempit. Keterbatasan ruang kabin mobil semakin menambah keintiman. Apalagi bersamaan dengan itu beat lagu berirama disko dari stereo set mobil pas dengan irama pompaan penis Robin. Mobil Robin bergoyang-goyang. Kedua tangan Robin pun mulai kreatif, sesekali yang satu meremas payudara Elizabeth. Jemari tangan yang satu lagi merangsang klitoris hingga Elizabeth pun mencapai orgasme.
Kini giliran Robin melepaskan tembakan maut ejakulasinya. Ia meminta Elizabeth untuk menungging di jok belakang mobil. Sambil mengelus-ngelus penisnya sendiri agar tetap dalam keadaan siap tempur, Robin menggaruk-garuk dulu klitoris Elizabeth dari belakang melalui belahan bokongnya. Robin juga mencolok-colokkan jari tengahnya ke lubang vagina Elizabeth, kemudian jari tengah yang dipenuhi lendir vagina Elizabeth tersebut ia masukkan ke mulutnya.
Setelah beberapa saat, Robin mulai menyelipkan kepala penisnya ke lubang vagina Elizabeth, mendorong lebih dalam dan mulai memompa. Kedua tangannya berpegangan di punggung Elizabeth sambil sesekali mengelus-ngelus dan memijat. Sambil terus memompa penisnya di lubang vagina Elizabeth, tangannya yang satu mulai bergerak menyentuh payudara Elizabeth yang menggantung bergoyang-goyang. Diremas-remasnya dengan gemas. Jemari tangannya yang satu lagi merabai klitoris Elizabeth. Elizabeth hanya bisa mengerang-ngerang nikmat. Bokongnya maju mundur seirama dengan pompaan penis Robin. Mobil Robin bergoyang-goyang lagi. Penis Robin berdenyut-denyut bergesekan dengan kehangatan dinding vagina Elizabeth.
Untuk mencapai klimaks ia memompa lebih cepat lagi, semakin cepat dan makin cepat hingga dirasakannya getaran nikmat luar biasa mengalir mulai dari ubun-ubun, menyebar ke seluruh tubuh, kemudian terpusat di ujung kepala penisnya, secepat kilat Robin mencabut penisnya keluar, dan muncratlah tembakan sperma di pantat Elizabeth. Robin pun mendesah puas sambil memeluk erat Elizabeth dari belakang. Penisnya menempel di pantat Elizabeth menikmati detik-detik terakhir getaran orgasmenya yang dahsyat.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah anjuran penulis John Gray, Phd. Terbukti? Sayangnya demikian. Setelah dalam kurun waktu satu bulan terjadi beberapa kali rendezvous dengan menu utama pergulatan asmara di atas ranjang, Robin pun mulai menjaga jarak. Hingga akhirnya pada suatu hari Robin memutuskan secara sepihak hubungan asmaranya dengan Elizabeth. Robin pergi meninggalkan Elizabeth, pindah dan bekerja di kota lain. Elizabeth pun patah hati. Panjang waktu yang diperlukan Elizabeth untuk menyembuhkan luka hatinya. Ia terpaksa menerima kenyataan bahwa Robin ternyata adalah seorang penjahat kelamin. Misinya: Membobol sebanyak mungkin selaput dara perawan molek di planet bumi ini.
Tamat
Ternyata Para Pria di Indonesia Terancam Jomblo Permanen
Beginilah Gambaran Acara-acara TV 2013 di Indonesia (Komik)
0 komentar:
Posting Komentar
Komen yang sopan....
Kalau ada kesalahan pada posting atau link rusak. Bilang aja sama admin.
Jangan nge SPAM, jangan karena blog ini dofollow
Intinya, Anda sopan saya segan, Anda lancang saya cincang...!!!
Saya memoderasi komentar Anda, supaya saya bisa membaca komentar2 dari Anda